Kalau ditanya aplikasi desain apa yang pertama kali dipelajari, jawabannya mungkin akan berbeda-beda.
Ada yang mengenal dunia desain dari Photoshop—belajar membuat seleksi, menghapus background, mengatur layer, sampai bingung mencari fungsi setiap tools-nya.
Ada juga yang justru mulai berani mendesain setelah mengenal Canva. Tinggal memilih ukuran, menyusun elemen, mengganti warna, lalu sebuah desain sudah bisa dibuat tanpa harus memahami terlalu banyak tools sejak awal.
Lalu, kamu termasuk tim Photoshop duluan atau tim Canva duluan?
Setiap Generasi Punya Pintu Masuk yang Berbeda
Perjalanan belajar desain tidak selalu dimulai dari tempat yang sama.
Bagi sebagian orang yang mulai belajar desain beberapa tahun lalu, Photoshop mungkin menjadi salah satu aplikasi pertama yang dikenalkan. Terutama ketika belajar mengedit foto, membuat poster, manipulasi gambar, atau mengerjakan tugas sekolah dan kuliah.
Saya sendiri mulai berkenalan dengan Photoshop pada tahun 2018 melalui sebuah tugas kuliah. Saat itu tugasnya sederhana: mengubah foto biasa menjadi pas foto yang terlihat lebih rapi dan bersih.
Awalnya tentu membingungkan. Banyak tombol, banyak tools, ada layer, selection, masking, adjustment, dan berbagai fitur yang saat itu terasa asing. Namun, justru dari tugas sederhana itulah rasa penasaran terhadap dunia desain mulai tumbuh.
Semakin dipelajari, semakin terasa bahwa sebuah visual yang awalnya biasa saja ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang berbeda.
Lalu Datang Canva yang Membuat Desain Terasa Lebih Mudah
Jika Photoshop sering memberikan pengalaman belajar dengan memahami tools satu per satu, Canva menawarkan pintu masuk yang terasa lebih sederhana bagi banyak pemula.
Kita tidak selalu harus memulai dari kanvas kosong. Sudah tersedia berbagai layout, elemen visual, font, foto, ilustrasi, hingga template yang dapat dikembangkan kembali sesuai kebutuhan.
Hal ini membuat orang yang sebelumnya merasa, “Aku nggak bisa desain,” mulai berani mencoba membuat poster, presentasi, konten media sosial, undangan, atau materi promosi sendiri.
Bukan berarti proses kreatifnya otomatis menjadi mudah. Tetap diperlukan pemahaman mengenai warna, tipografi, komposisi, hierarki visual, white space, dan cara menyampaikan pesan melalui sebuah desain.
Kesimpulannya, aplikasi hanyalah alat. Tetap dibutuhkan manusia untuk mengubah sebuah ide menjadi karya yang luar biasa, penuh kreativitas, inovatif dan menyimpan pesan di dalamnya.
Photoshop dan Canva Tidak Harus Dipertandingkan
Pembahasan Canva versus Photoshop sering kali berakhir pada pertanyaan:
“Mana yang lebih bagus?”
Padahal, pertanyaan yang mungkin lebih tepat adalah:
“Mana yang paling sesuai dengan kebutuhan kita?”
Photoshop sangat dikenal dalam pekerjaan berbasis raster dan pengolahan gambar. Kita dapat melakukan penyuntingan foto secara lebih detail, membuat manipulasi visual, mengatur efek, menggunakan layer dan masking, serta mengolah gambar dengan kontrol yang lebih luas.
Sementara itu, Canva menawarkan proses kerja yang lebih praktis untuk berbagai kebutuhan desain sehari-hari. Membuat konten media sosial, presentasi, poster sederhana, katalog, hingga materi promosi dapat dilakukan dengan relatif cepat. Karena kebutuhan setiap desainer berbeda, tidak ada kewajiban untuk hanya memilih salah satunya. Bahkan, keduanya bisa digunakan bersama.
Sebuah foto dapat diedit lebih dahulu menggunakan Photoshop, kemudian dimasukkan ke Canva untuk disusun menjadi konten media sosial. Atau desain awal dibuat di Canva, sementara elemen tertentu diolah lebih detail menggunakan Photoshop.
Yang terpenting bukan aplikasi mana yang digunakan, melainkan bagaimana kita memanfaatkan alat tersebut untuk menghasilkan desain yang sesuai dengan tujuan.
Mulai dari Canva Bukan Berarti Kurang Profesional
Masih ada anggapan bahwa seseorang baru bisa disebut desainer jika menggunakan aplikasi yang dianggap lebih kompleks. Padahal kemampuan desain tidak hanya ditentukan oleh software.
Seseorang dapat menggunakan aplikasi yang sangat canggih, tetapi hasil desainnya tetap sulit dibaca jika hierarki visualnya tidak jelas.
Sebaliknya, seseorang dapat menggunakan aplikasi yang sederhana tetapi menghasilkan desain yang efektif karena memahami komposisi, warna, tipografi, dan kebutuhan audiensnya.
Karena itu, menggunakan Canva sebagai aplikasi pertama untuk belajar desain bukan sesuatu yang perlu dianggap lebih rendah. Begitu juga dengan seseorang yang belajar dari Photoshop terlebih dahulu.
Jadi kesimpulannya, kedua alat di atas hanyalah jalan masuk yang berbeda menuju dunia yang sama. Menghasilkan kreativitas dari sebuah ide yang sebelumnya hanya bersarang di dalam kepala.
Yang Penting Adalah Terus Belajar
Aplikasi desain akan terus berkembang. Tools berubah, fitur bertambah, dan cara kita bekerja pun ikut berubah. Namun, dasar-dasar desain tetap memiliki peranan penting.
Tidak ada kata berhenti untuk terus belajar, karena skill desain perlu terus diasah dari waktu ke waktu. Mulai dari memahami komposisi yang tepat, memilih warna yang selaras, menggunakan font yang nyaman dipandang, hingga menentukan bagian mana yang harus lebih dulu menarik perhatian audiens. Semua itu membutuhkan ilmu, latihan, pengalaman, dan tentu saja jam terbang yang tidak sedikit.
Sebab, desain yang dibuat tanpa pertimbangan dapat terlihat asal-asalan, sulit dipahami, bahkan gagal menyampaikan pesan yang seharusnya diterima oleh audiens. Desain bukan hanya soal membuat sesuatu terlihat menarik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah visual dapat berkomunikasi dengan jelas dan memiliki tujuan.
Pada akhirnya, aplikasi hanyalah alat yang membantu menerjemahkan ide menjadi sebuah visual. Kreativitas, kemampuan mengolah pesan, serta keputusan di balik setiap elemen desain tetap berada di tangan orang yang menggunakannya.
Jadi, Kamu Tim Mana?
Setiap orang mempunyai cerita awalnya sendiri ketika masuk ke dunia desain. Ada yang pertama kali membuka Photoshop lalu kebingungan melihat begitu banyak tools. Ada yang mulai dari Canva hanya karena ingin membuat satu poster sederhana. Ada pula yang mencoba berbagai aplikasi sampai akhirnya menemukan workflow yang paling nyaman untuk dirinya.
Tidak ada perjalanan yang lebih keren atau lebih layak dibandingkan perjalanan orang lain. Begitu juga dengan aplikasi yang digunakan. Masih ada anggapan bahwa pengguna Canva kurang pantas disebut desainer hanya karena aplikasinya dianggap lebih mudah. Padahal, kemudahan sebuah tools tidak otomatis menentukan kualitas orang yang menggunakannya.
Canva, Photoshop, atau aplikasi desain lainnya tetaplah alat. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang memahami komposisi, warna, tipografi, hierarki visual, serta mampu menyampaikan pesan melalui desain yang dibuatnya. Desain yang baik tidak lahir hanya karena aplikasinya rumit, begitu pula desain yang buruk tidak otomatis terjadi hanya karena dibuat menggunakan aplikasi yang sederhana.
Justru menarik melihat bagaimana satu aplikasi bisa menjadi pintu masuk seseorang ke dunia desain. Berawal dari rasa penasaran, berkembang menjadi kemampuan, kemudian menjadi hobi, bahkan pekerjaan yang menghasilkan.
Jadi, tidak perlu merasa minder hanya karena perjalanan belajarmu dimulai dari Canva, dan tidak perlu merasa lebih unggul hanya karena sejak awal menggunakan Photoshop. Setiap orang punya proses, kebutuhan, dan cara belajar yang berbeda.
Sekarang giliran kamu.
Aplikasi desain mana yang lebih dulu kamu pelajari: Canva atau Photoshop?
Dan yang lebih seru lagi—
masih ingat desain pertama yang kamu buat waktu itu? Editor by: Ismi Muthmainnah
