Di kalangan umat Islam, hari Jumat memiliki kedudukan istimewa. Ia disebut sebagai sayyidul ayyam, penghulu segala hari, karena di dalamnya terhimpun berbagai keutamaan dan peristiwa besar. Salah satu amalan yang dianjurkan pada hari ini adalah membaca Surat Al-Kahfi. Namun, anjuran ini bukan sekadar tradisi turun-temurun tanpa dasar—ia bersumber dari hadits-hadits Nabi Muhammad ﷺ yang telah ditelaah kesahihannya oleh para ulama hadits. Artikel ini akan mengupas dalil-dalil tersebut secara jujur, termasuk membedakan mana riwayat yang shahih dan mana yang lemah, agar amalan kita berdiri di atas ilmu yang benar.
1. Dalil Utama: Cahaya di Antara Dua Jumat
Dalil paling masyhur dan paling kuat mengenai keutamaan ini adalah hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jumat."
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (II/399, no. 3392) dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan (III/249, no. 5792), serta oleh An-Nasa'i. Al-Hakim menilai sanadnya shahih, meskipun tidak diriwayatkan oleh Bukhari maupun Muslim. Syaikh Al-Albani turut menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami' (no. 6470) dan Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (no. 736).
Ada pula riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dengan redaksi yang lebih panjang, bahwa cahaya tersebut akan memancar dari bawah telapak kaki pembacanya hingga ke langit, menerangi dirinya kelak pada hari Kiamat, sekaligus menjadi sebab diampuninya dosa-dosa di antara dua Jumat.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa makna "cahaya" dalam hadits-hadits ini bukan sekadar kiasan, melainkan ganjaran nyata berupa cahaya di hari Kiamat—sebagaimana disebutkan dalam Syarah Shahih Muslim (3: 455). Hal ini selaras dengan firman Allah Ta'ala tentang orang-orang beriman yang cahayanya bersinar di hadapan dan di sisi kanan mereka pada hari itu (QS. Al-Hadid: 12).
2. Dalil tentang Malam Jumat
Selain hari Jumat, terdapat pula riwayat mengenai malam Jumat, yaitu perkataan Abu Sa'id Al-Khudri:
"Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, ia akan diterangi dengan cahaya di antara ia dengan Ka'bah."
Riwayat ini terdapat dalam Sunan Ad-Darimi (no. 3450) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib (no. 736). Perlu dicatat secara jujur bahwa riwayat ini berstatus mauquf, yakni perkataan sahabat Abu Sa'id Al-Khudri sendiri, bukan sabda Nabi ﷺ secara langsung (marfu'). Karena itu, sebagian ulama—seperti dijelaskan dalam kajian takhrij oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat—berpendapat bahwa dalil yang benar-benar kuat dan marfu' adalah yang menyebut "hari Jumat", sedangkan penentuan waktu spesifik "malam Jumat" masih diperselisihkan di kalangan ahli hadits. Sikap yang paling aman adalah membacanya kapan saja dalam rentang waktu Jumat, baik malam maupun siang harinya.
3. Perlindungan dari Fitnah Dajjal
Salah satu hikmah besar surat ini adalah perlindungannya dari fitnah Dajjal, sebagaimana disabdakan Rasulullah ﷺ dalam hadits riwayat Imam Muslim dan Abu Dawud dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu:
"Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat dari awal surat Al-Kahfi, maka ia akan terjaga dari (fitnah) Dajjal."
Hadits ini berstatus shahih karena diriwayatkan oleh Imam Muslim, salah satu kitab hadits paling terpercaya dalam Islam. Sebagian riwayat lain menyebut sepuluh ayat terakhir sebagai alternatif. Kaitan ini bukan kebetulan: kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua) yang menjadi pembuka surat ini sendiri adalah kisah tentang keteguhan iman menghadapi ujian dan godaan penguasa zalim—sebuah latihan spiritual yang relevan untuk menghadapi fitnah besar seperti Dajjal kelak.
4. Perlu Kejujuran Ilmiah: Ada Juga Riwayat yang Lemah
Sebagai bentuk kehati-hatian ilmiah, penting disampaikan bahwa tidak semua riwayat tentang Al-Kahfi berstatus shahih. Misalnya, riwayat yang menyebutkan pahala membaca Al-Kahfi setara dengan pahala yang memenuhi jarak antara langit dan bumi, yang dinisbatkan kepada Aisyah radhiyallahu 'anha melalui jalur Ad-Dailami, dinilai dho'if jiddan (lemah sekali) oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho'ifah (V/504, no. 2482) karena terdapat perawi bernama Hisyam Al-Makhzumi yang bermasalah dalam sanadnya.
Sikap seorang muslim yang baik terhadap ilmu hadits adalah tidak menelan mentah-mentah setiap riwayat yang beredar di masyarakat, melainkan merujuk pada penilaian ulama ahli hadits (muhaddits) yang kredibel. Untungnya, sebagaimana dipaparkan di atas, dalil utama tentang keutamaan membaca Al-Kahfi pada hari Jumat sudah cukup kuat tanpa perlu bersandar pada riwayat-riwayat yang lemah.
5. Mengapa Justru Hari Jumat?
Keterkaitan Al-Kahfi dengan hari Jumat juga dapat dipahami dari keistimewaan hari itu sendiri. Dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan:
"Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya. Dan tidak akan terjadi hari Kiamat kecuali pada hari Jumat."
Karena hari Jumat diserupakan dengan miniatur hari Kiamat—hari berkumpulnya seluruh makhluk—maka amat relevan bila pada hari ini seorang muslim memperbanyak amal yang berkaitan dengan persiapan akhirat, termasuk membaca surat yang membahas empat jenis fitnah besar kehidupan: fitnah agama (kisah Ashabul Kahfi), fitnah harta (kisah pemilik dua kebun), fitnah ilmu (kisah Musa dan Khidir), serta fitnah kekuasaan (kisah Dzulqarnain).
6. Kesimpulan
Anjuran membaca Surat Al-Kahfi setiap Jumat bukanlah amalan tanpa dasar, melainkan bersandar pada hadits-hadits yang telah dinilai shahih oleh para ulama hadits, terutama riwayat dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Darda radhiyallahu 'anhuma. Amalan ini menjanjikan ganjaran berupa cahaya di antara dua Jumat, cahaya pada hari Kiamat, serta perlindungan dari fitnah Dajjal. Sekaligus, umat Islam dianjurkan untuk berhati-hati dan tidak mencampuradukkan dalil yang shahih dengan riwayat yang lemah, agar keyakinan beragama dibangun di atas ilmu yang benar, bukan sekadar kebiasaan.
Rujukan:
Al-Hakim, Al-Mustadrak 'alaa ash-Shahihain, II/399, no. 3392.
Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, III/249, no. 5792.
Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, no. 3450.
Al-Albani, Shahih Al-Jami' ash-Shaghir, no. 6470–6471; Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, I/180, no. 736.
Al-Albani, Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho'ifah wa Al-Maudhu'ah, V/504, no. 2482.
HR. Muslim dan Abu Dawud (hadits Abu Darda tentang sepuluh ayat awal Al-Kahfi).
HR. Muslim (hadits keutamaan hari Jumat).
Almanhaj.or.id, "Hadits-Hadits Shahih dan Dhaif Keutamaan Surat Al-Kahfi", takhrij oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat.
Muslim.or.id, "Membaca Surat Al-Kahfi dan Cahaya dari Dua Jumat".
Wallahu a'lam bish-shawab.
